Ternyata Ini Alasan Warga RI Malas Beli Mobil Listrik Bekas

Tren adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia terus menunjukkan lonjakan signifikan untuk unit baru. Berbagai produsen otomotif bersaing ketat meluncurkan varian bertenaga baterai dengan beragam keunggulan. Namun, pemandangan berbeda justru terjadi di pasar mobil bekas (second-hand). Peminat unit EV bekas tergolong sangat minim dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan konsumen otomotif tanah air. Berikut adalah beberapa faktor utama yang membuat masyarakat Indonesia masih enggan memboyong mobil listrik bekas.

Sulitnya Akses Pembiayaan dan Skema Kredit

Salah satu kendala terbesar dalam transaksi mobil listrik bekas adalah minimnya opsi pembiayaan dari perusahaan leasing. Sebagian besar pembeli mobil bekas di Indonesia mengandalkan skema cicilan harian atau bulanan. Namun, banyak lembaga keuangan enggan memberikan fasilitas kredit untuk EV bekas karena tingginya tingkat ketidakpastian nilai jual kembali (resale value). Jika pokok utang lebih besar daripada harga pasaran mobil saat konsumen gagal bayar, hal tersebut menjadi risiko finansial yang dihindari oleh perusahaan pembiayaan.

Kekhawatiran Penurunan Kondisi Baterai (State of Health)

Baterai merupakan komponen paling krusial sekaligus termahal dalam struktur kendaraan listrik, dengan porsi biaya mencapai 40 hingga 50 persen dari nilai total unit. Pada unit bekas, calon pembeli sering kali merasa cemas akan penurunan kesehatan baterai (State of Health/SoH). Biaya penggantian baterai baru yang sangat fantastis ketika masa garansi resmi dari pabrikan habis menjadi ancaman beban finansial yang dihindari konsumen.

Perubahan Harga dan Perang Diskon Mobil Baru

Industri EV berkembang sangat dinamis. Banyak produsen meluncurkan model-model anyar dengan harga yang semakin murah, fitur lebih melimpah, dan daya jelajah baterai yang lebih jauh. Adanya promosi khusus serta perang harga pada unit baru membuat selisih harga antara mobil listrik bekas dan baru menjadi sangat tipis. Alhasil, calon pembeli cenderung memilih menambah sedikit dana untuk mendapatkan unit gres bergaransi penuh.

Depresiasi Nilai Jual yang Terjal

Penurunan harga (depresiasi) mobil listrik bekas terjadi sangat cepat dan tajam. Ketidakpastian mengenai daya tahan komponen elektronik dalam jangka panjang membuat nilai depresiasi EV jauh lebih tinggi dibandingkan mobil bensin atau diesel. Calon pemilik khawatir akan mengalami kerugian besar ketika berniat menjualnya kembali dalam beberapa tahun ke depan.

eXpress PartZ Ampera

  • Alamat Lengkap: Jl. Ampera Raya No.A6, Ragunan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan
  • Layanan: Penjualan Ban Mobil (Berbagai Merk), Gratis Pasang, Balancing, & Pengecekan Kondisi Ban

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top